Hakikat hidup adalah perjalanan bukan pelarian. Selayaknya sebuah perjalanan maka sepanjang perjalanan kita akan menemui banyak hal sebagai media pembelajaran.
Ada satu kesalahan fatal sebagian orang ketika melihat kesuksesan seseorang, yaitu melihatnya dari ujung. Padahal hal penting yang harus dilihat adalah prosesnya. Bahasa cantiknya adalah "ingin sukses harus berani mengikuti proses".
Sebagian orang lupa bahwa sukses itu dimulai dari mindset atau cara berpikir. Kenapa? Karena pikiranlah yang akan menuntun kita sehingga perjalanan hidup memiliki arah. Ketika seseorang melakukan perjalanan tanpa arah, maka potensi tersesatnya jauh lebih besar.
Arah lebih penting daripada kecepatan. Pada titik inilah sebagian besar orang menginginkan segala sesuatu berjalan cepat. Cepat menghasilkan, cepat sampai dan cepat menikmati. Proses itu seperti tiket sukses, tanpa tiket ini maka rasanya mustahil kita bisa sukses.
Di dalam proses itulah sebagian orang tidak berani, tidak tahan dan memilih balik kanan memutar haluan ke titik awal. Akibatnya tertinggal dengan orang lain yang berani mengikuti proses.
Padahal dalam Islam, jelas tersirat bagaimana kita dilatih berproses. Sejak kita di kandungan lalu lahir ke dunia, tumbuh menjadi anak-anak hingga dewasa. Bukan semua itu proses?
Ketika mendengar kata proses, terdengar gampang dan mudah tapi realitasnya banyak orang beguguran ditengah jalan karena tidak tahan dengan proses. Sebab di dalam proses itulah kita mental kita akan dilatih secara gradual, bertahap agar kita belajar menimati setiap proses demi proses.
Dalam proses akan ada luka, rasa sakit, peluh, letih dan terkadang juga lelah sampai pada titik hampir menyerah. Tapi semua rasa itu adalah cara alam melatih mental kita. Sebab ketika kita mulai tumbuh dan berdiri di atas goncangan angin akan lebih kencang, tekanan akan semakin besar dan persoalan yang kita hadapi akan semakin rumit.
Maka mental kita dilatih di dalam proses itu agar ketika kita sampai di atas mental kita sudah terlatih dan tidak mudah goyah apalagi jatuh.
Menjadi Manusia Pembelajar
Jadilah manusia pembelajar di universitas kehidupan, dimana dosennya sangat beragam. Terkadang dosen yang mengajarkan kehidupan adalah seorang juru parkir, tukang pemulung, pejabat, ibu rumah tangga bahkan anak-anak sekalipun.
Mengapa kita harus menjadi manusia pembelajar? Karena hakikat hidup adalah perjalanan bukan pelarian. Selayaknya sebuah perjalanan maka sepanjang perjalanan kita akan menemui banyak hal sebagai media pembelajaran.
Terkadang kita menemui badai, jalan berbatu, terjal dan di tepi jurang. Di lain waktu kita juga menemui cuaca cerah, udara sejuk dan tempat yang enak untuk ngopi. Itulah perjalanan hidup !
Mau jadi apapun kita, mau tinggal dimanapun kita maka warna kehidupan akan kita temui. Jangan lari dari rasa sakit, terima dengan lapang dada dan hati yang tenang. Biarkan rasa sakit itu lewat dalam diri kita, jangan ditahan dan jangan ditolak, tapi rasakan pelan-pelan sampai rasa sakit itu hilang.
Ketika kita lari dari rasa sakit, percayalah dia akan menemui kita kembali dilain waktu. Mungkin ceritanya berbeda tetapi substansinya sama, yaitu rasa sakit ! Jadi, jalana bijak selama kita dalam perjalanan hidup adalah menjadi manusia pembelajar.
Belajar tentang sabar, belajar tentang menahan rasa sakit, belajar menjadi orang penting dan belajar menjadi orang tidak penting. Belajar ngobrol, belajar diam dan belajar bicara.
Nikmati setiap episode kehidupan dengan hati lapang, hati tenang. Karena keberkahan dan kesejahteraan hanya akan datang kepada mereka yang memiliki ketenangan. Hal yang harus diingat adalah, bahagia berbeda dengan tenang. Bahagia bisa kita ciptakan, tapi ketenangan datang dari Tuhan.
Maka rubah mindset kita. Ketika rencana dan keinginan kita gagal pahami bahwa itu artinya rencana dan keinginan Tuhan yang sedang bekerja. Dan bukankah kita percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan kita yang terbaik menurutNya, bukan menurut kita yang pandanganya terbatas.
Karnoto
Jum'at, 18 September 2026
Pukul 01.55 WIB
.jpeg)