TSA7TpO9TSMpGpWpBSW6TSY5GA==

Catatan Kuliah [Bagian Ke-3]; Pentingnya Kita Belajar Bahasa

Mahasiswa Univeristas Pamulang Serang Jurusan Ilmu Pemerintahan.


Kata atau kalimat bisa menggerakan orang untuk berbuat kebaikan, tapi juga bisa "melumpuhkan" pikiran seseorang sekaligus bisa menciptakan huru-hara.

Jangan meremehkan kata dalam bahasa karena salah mengucapkan, salah menuliskan dan salah menempatkan bisa jadi bencana. Sebab, bahasa dimana didalamya terdapat kata dan kalimat adalah sarana komunikasi. Satu kata bisa punya persepsi beragam, satu kalimat bisa merubah cara pandang seseorang.

Itulah mengapa kita perlu belajar tentang bahasa, kata dan kalimat seperti hari ini (Sabtu, 19 September 2026) saya dan teman-teman sekelas belajar tentang ejaan dalam bahasa. 

"Kucing makan tikus mati", demikian dosen mencontohkan sebuah kalimat tanpa ejaan. Ketika dosen bertanya kepada kami maka akan banyak persepsi dan perbedaan memaknai kalimat tersebut. Namun ketika diberi ejaan maka kalimat tersebut memiliki arti dan makan yang sama.

"Bagaimana kalau kalimat itu kita berikan ejaan menjadi; Kucing Makan, Tikus Mati," kata dosen kepada kami. Kalimat itu menjadi lebih jelas hanya karena ada ejaannya. 

Ejaan Bahasa Indonesia berfungsi sebagai kaidah tata tulis resmi untuk mengatur penggunaan huruf, penulisan kata, dan tanda baca agar komunikasi tertulis menjadi jelas dan mudah dipahami.

Ejaan Bahasa Indonesia sendiri telah beberapa kali perubahan .Berikut adalah macam-macam ejaan yang pernah berlaku di Indonesia:

1. Ejaan Van Ophuijsen (1901)
Dibuat oleh Charles A. van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Menggunakan sistem ejaan bahasa Belanda.

Ciri khas: Huruf oe untuk bunyi u (contoh: goeroe), tj untuk c (contoh: tjoetji), dan dj untuk j (contoh: djalan). 

2. Ejaan Soewandi / Ejaan Republik (1947)
Menggantikan Ejaan Van Ophuijsen setelah Indonesia merdeka. Diresmikan oleh Menteri Pendidikan saat itu, R.M. Soewandi.

Ciri khas: Huruf oe diganti menjadi u (contoh: guru), dan kata ulang boleh ditulis menggunakan angka 2 (contoh: anak2). 

3. Ejaan Pembaharuan (1954)
Dirumuskan melalui Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Bertujuan menyederhanakan ejaan yang rumit. Belum sempat diresmikan menjadi undang-undang. 

4. Ejaan Melindo (1959)
Singkatan dari Melayu-Indonesia. Hasil kerja sama antara Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu (Malaysia). Gagal diresmikan karena situasi politik yang memanas antara kedua negara. 

5. Ejaan Baru / Ejaan LBK (1967)
Disusun oleh Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK). Menjadi bentuk transisi dan cikal bakal lahirnya EYD. Mengubah beberapa huruf seperti tj menjadi c dan dj menjadi j.

6. Ejaan Yang Disempurnakan / EYD (1972)
Diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 16 Agustus 1972. Mengubah banyak aturan lama, seperti tj jadi c, dj jadi j, j jadi y, dan ch jadi kh.

Berlaku sangat lama dengan beberapa kali pemutakhiran pedoman (Edisi II tahun 1987 dan Edisi III tahun 2009). 

7. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia / PUEBI (2015)
Menggantikan nama EYD berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ada penambahan pada aturan huruf kapital, penggunaan huruf tebal, dan beberapa tanda baca. 

8. EYD Edisi V (2022–Sekarang)
Ditetapkan kembali pada Agustus 2022 untuk menggantikan istilah PUEBI. Menyesuaikan perkembangan zaman dengan pembaruan kaidah penulisan, huruf, kata, serta tanda baca yang lebih adaptif.

Mengenali dan memahami ejaan dalam Bahasa Indonesia akan bermanfaat bagi seseorang ketika akan membuat skripsi dan makalah. Bahkan dalam kepentingan yang lebih luas, baik dalam pergaulan, masyarakat ejaan Bahasa Indonesia juga akan memiliki manfaat.

Apalagi bagi mahasiswa Ilmu Pemerintahan atau yang bekerja di lingkungan pemerintah termasuk ketika seseorang menjadi public figure. Jadi kesimpulannya adalah ejaan dalam Bahasa Indonesia menjadi keharusan yang kita kuasai agar ketika kita berkomunikasi bisa mengirimkan pesan yang jelas sehingga tidak multi tafsir yang bisa berdampak terhadap cara pandang.

Hal yang harus diingat adalah bahwa bahasa jangan hanya menjadi sekedar teori semata, tapi harus menjadi referensi atau bahan amunisi kita dalam melakukan komunikasi. Kata atau kalimat bisa menggerakan orang untuk berbuat kebaikan, tapi juga bisa "melumpuhkan" pikiran seseorang sekaligus bisa menciptakan huru-hara.

Kata dan kalimat bisa membuat orang menjadi semangat, tapi juga bisa membuat orang putus asa. Kata dan kalimat bisa membuat orang tersenyum sekaligus bisa membuat orang marah. Itulah mengapa kita merasa punya kepentingan untuk belajar tentang bahasa. 

Sekedar mengingatkan bahwa sebenarnya dalam Ilmu Komunikasi, bahasa itu tidak selalu kata dan kalimat tetapi simbol-simbol lain, seperti gaya berpakain, ekspresi wajah, senyum termasuk gerakan tangan bahkan cara jalan dan duduk pun bagian dari simbol komunikasi yang bisa dibaca dari teori komunikasi. Inilah yang sering kita kenal body language.***

Sabtu, 19 September 2026

Penulis,
Karnoto



Type above and press Enter to search.