TSA7TpO9TSMpGpWpBSW6TSY5GA==

Buta Politik Diusia Muda adalah Investasi Penyesalan Jangka Panjang


Gymnastiar Hamdani ex Ketua BEM Untirta 2024

Ada sebuah kutipan lama dari Bertolt Brecht yang selalu relevan: "Buta yang paling buruk adalah buta politik. Ia tidak mendengar, tidak melihat, tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik."

Hari ini, buta politik itu tidak lagi berwujud kakek-kakek di desa yang tidak tahu siapa bupatinya. Ia berwujud anak muda, dengan smartphone di tangan, IPK tinggi, dan ribuan followers, tapi gagap ketika ditanya mengapa uang kuliahnya naik, mengapa lapangan kerja semakin sempit, atau mengapa harga beras tidak pernah turun. 

Kita adalah generasi yang paling melek tren, tapi paling buta politik.

Kita Mengira Politik Hanya di Senayan
Kesalahan pertama anak muda adalah menyempitkan politik hanya sebagai urusan partai, pemilu, dan perebutan kursi. Padahal politik adalah tentang siapa yang menentukan berapa SPP kita, kurikulum apa yang harus kita hafal, dan jalan mana yang akan diperbaiki.

Ketika seorang mahasiswa mengeluh biaya UKT naik tapi tidak mau tahu bagaimana anggaran pendidikan 20% dikelola, itu buta politik. Ketika seorang siswa SMA marah karena gurunya sibuk administrasi sampai tidak sempat mengajar, tapi diam ketika kebijakan itu dibuat tanpa mendengarkan guru, itu buta politik. Buta politik membuat kita pandai mengeluh tentang akibat, tapi malas mencari sebab.

Siapa yang Diuntungkan dari Anak Muda yang Apolitis?

Anak muda yang apolitis adalah investasi terbaik bagi kekuasaan yang malas dikritik.  Anak muda yang sibuk berdebat soal artis, tim sepak bola, dan drama percintaan, tapi menganggap politik itu "kotor" dan "bukan urusan gue", adalah rakyat ideal. Mereka tidak akan bertanya, tidak akan menagih janji, dan tidak akan mengawasi.

Sekolah dan kampus pun secara tidak sadar ikut melestarikan ini. Kita diajari untuk menghafal pasal-pasal dalam PPKn untuk ujian, tapi tidak diajari cara membaca APBN. Kita diajari untuk patuh pada aturan OSIS, tapi dicap "berisik" ketika mempertanyakan kebijakan sekolah. Hasilnya, kita mencetak generasi pekerja yang terampil, tapi bukan warga negara yang sadar.

Kita lupa, netralitas di hadapan ketidakadilan bukanlah kebijaksanaan, melainkan keberpihakan pada penindas.

Melek Politik Bukan Berarti Harus Jadi Politisi
Melek politik tidak berarti kamu harus ikut partai, ikut demo setiap minggu, atau bercita-cita jadi anggota DPR.

Pertama, mau tahu. Tahu bahwa kenaikan harga bukan takdir, tapi keputusan politik. Tahu bahwa kualitas pendidikan bukan nasib, tapi kebijakan.

Kedua, mau bertanya. Berani bertanya "uangnya kemana?", "kebijakan ini untuk siapa?", dan "siapa yang diuntungkan?"

Ketiga, mau terlibat. Terlibat bisa sesederhana tidak golput, mengecek rekam jejak calon, mengkritisi kebijakan kampus, atau sekadar tidak menyebarkan hoaks politik di grup WhatsApp.

Jika hari ini kita memilih buta, kita sedang menabung penyesalan. Lima atau sepuluh tahun lagi, ketika kita sudah bekerja, berkeluarga, dan membayar pajak, kita akan hidup dalam sistem yang kita biarkan rusak karena kita terlalu malas untuk peduli saat muda.

Buta huruf masih bisa diperbaiki dengan belajar membaca. Buta politik, jika dibiarkan, akan membuat kita ditindas seumur hidup tanpa pernah sadar siapa yang menindas kita. Dan itu adalah penyesalan jangka panjang yang paling mahal. 

Penulis,
Gymnastiar Hamdani
Eks.Presiden Mahasiswa Untirta 

Type above and press Enter to search.