Serangan personal terhadap Fatimah Az-Zahra di media sosial disebut semakin massif setelah aksi BEM UI pada 18 Agustus 2026.Kritik yang muncul tidak lagi hanya menyoroti sikap atau gagasannya, tetapi mulai menyasar identitas, penampilan, hingga karakter pribadi.
Sejumlah komentar bahkan menyebut Fatimah memiliki keterkaitan dengan aliran Syiah. Ada pula warganet yang mempermasalahkan cara berhijabnya dan menilai tidak sesuai syariat.Komentar lain menyebut Fatimah tidak beretika serta hanya mencari popularitas atau pansos.
Gelombang kritik tersebut juga berkembang ke ranah politik. Salah satu komentar menyebut, apabila Fatimah kelak menjadi politisi, dirinya dinilai tidak akan berbeda dengan politikus lainnya.
Beragam komentar itu muncul dalam konteks meningkatnya perhatian publik terhadap Fatimah setelah aksi BEM UI pada 18 Agustus 2026. Informasi mengenai fenomena tersebut dikutip dari sumber media yang menjadi referensi pemberitaan.
Pola serangan yang menyasar berbagai aspek personal tersebut memunculkan dugaan bahwa kritik terhadap Fatimah tidak semata-mata berkaitan dengan substansi aksinya.Serangan dapat dipandang sebagai bagian dari upaya intimidasi sekaligus degradasi moral terhadap figur yang tengah menjadi sorotan.
Perbedaan pendapat di ruang publik merupakan hal yang wajar. Namun, kritik idealnya tetap diarahkan pada pernyataan, tindakan, atau gagasan yang dapat diuji secara terbuka, bukan dengan membangun stigma terhadap pribadi seseorang.Masifnya komentar bernada personal juga menunjukkan bagaimana media sosial dapat menjadi ruang tekanan psikologis ketika kritik tidak lagi berbasis substansi.
Karena itu, publik perlu membedakan kritik, penilaian, dan serangan personal agar perdebatan mengenai aksi BEM UI tetap berada dalam koridor yang sehat.[
